LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI TERBARU 2019

Oleh : Muksin, SKep.,Ns.

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Pada pasien gangguan jiwa yang dirawat dalam keluarga sering mengalami ketidakpedulian merawat diri yang menyebabkan pasien dikucilkan dalam keluarga maupun masyarakat.

Materi ini akan membahas cara-cara merawat pasien dengan kurang perawatan diri (tidak peduli terhadap perawatan diri) agar pasien dan keluarga mempunyai kemampuan merawat pasien di rumah.

Oleh : Muksin, SKep.,Ns.

Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004). kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).

B.     Tujuan

1.      Agar kita perawat mampu menetahui cara penanganan pasiaen yang kurang perawatan diri

2.      Bagai mana cara mengatasi pasien yang kurang perawatan diri baik di rumah maupun rumah sakit

Oleh : Muksin, SKep.,Ns.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).

Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).

B.     Jenis–Jenis Perawatan Diri

1.      Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan

Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.

Oleh : Muksin, SKep.,Ns.

2.      Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.

Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.

3.      Kurang perawatan diri : Makan

Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.

4.      Kurang perawatan diri : Toileting

Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).

 

C.    Etiologi

Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut:

1.         Kelelahan fisik

2.         Penurunan kesadaran

Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah :

1.      Faktor prediposisi

a.       Perkembangan

Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.

b.      Biologis

Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.

c.       Kemampuan realitas turun

Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

d.      Sosial

Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

2.      Faktor presipitasi

Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:

1.      Body Image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

2.      Praktik Sosial

Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.

3.      Status Sosial Ekonomi

Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.

4.      Pengetahuan

Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.

5.      Budaya

Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.

6.      Kebiasaan seseorang

Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.

7.      Kondisi fisik atau psikis

Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.

1.      Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.

2.      Dampak psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

D.    Tanda dan Gejala

Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:

a)      Fisik

Badan bau, pakaian kotor.•

Rambut dan kulit kotor.•

Kuku panjang dan kotor•

Gigi kotor disertai mulut bau•

penampilan tidak rapi•

b)      Psikologis

Malas, tidak ada inisiatif.•

Menarik diri, isolasi diri.•

Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.•

c)      Sosial

Interaksi kurang.•

Kegiatan kurang•

Tidak mampu berperilaku sesuai norma.•

Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.•

Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :

1. Data subyektif

a.       Pasien merasa lemah

b.      Malas untuk beraktivitas

c.       Merasa tidak berdaya.

2. Data obyektif

a.       Rambut kotor, acak – acakan

b.      Badan dan pakaian kotor dan bau

c.       Mulut dan gigi bau.

d.      Kulit kusam dan kotor

e.       Kuku panjang dan tidak terawatt

E.     Mekanisme Koping

a.       Regresi

b.      Penyangkalan

c.       Isolasi diri, menarik diri

d.      Intelektualisasi

F.      Rentang Respon Kognitif

Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah :

1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri

a)      Bina hubungan saling percaya.

b)      Bicarakan tentang pentingnya kebersihan.

c)      Kuatkan kemampuan klien merawat diri.

2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.

a)      Bantu klien merawat diri

b)      Ajarkan ketrampilan secara bertahap

c)      Buatkan jadwal kegiatan setiap hari

3. Ciptakan lingkungan yang mendukung

a.       Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.

b.      Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.

c.       Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi yang dekat dan tertutup.

G. Pohon Masalah

Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

isolasi sosial

Defisit perawatan diri : mandi, toileting, makan, berhias.

H. Diganosa Keperawatan

Menurut Depkes (2000:32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri sesuai dengan bagan 1.1 yaitu :

1.      Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.

2.      Defisit perawatan diri

3.      Isolasi sosial

I. Fokus Intervensi

Diagnosa keperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.

Tujuan Umum.

Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.

Tujuan Khusus.

TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Kriteriaevaluasi

Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:

a.       Wajah cerah, tersenyum

b.      Mau berkenalan

c.       Ada kontak mata

d.      Menerima kehadiran perawat

e.       Bersedia menceritakan perasaannya

Intervensi

a.       Berikan salam setiap berinteraksi.

b.      Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.

c.       Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.

d.      Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.

e.       Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.

f.       Buat kontrak interaksi yang jelas.

g.      Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.

h.      Penuhi kebutuhandasar klien.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.

Kaplan Sadoch. 1998. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia

Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto

Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC

Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 – 2006. Jakarta : Prima Medika.

Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.

Townsend, Marry C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta. EGC

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*